Mitos Kampus VII

Mitos Kampus JKL Purwokerto

Pengantar

Mitos Kampus JKL Purwokerto mengacu  dari  kisah “Watu Petilasan Mbah Sani Taryan” yang ditulis oleh Sugeng Abdullah, SST, MSi.  Sebagian materi (kisah) pada tulisan ini sudah dibuat naskah drama (skenario) oleh bapak Bambang Wadoro, SPd – seorang guru dan budayawan Banyumas – dan diberi judul  “Batu Sani Taryan”. Naskah drama tersebut, kemudian oleh mahasiswa  Prodi D3 dan D4 Kesehatan Lingkungan  yang tergabung dalam theater “Santar”  dimainkan dalam sebuah pementasan.  Beberapa cuplikan pementasan drama itu  dapat dilihat melalui you tube dengan KLIK pada nomor   12, 3, 4 dan 5. Demikianlah, Selamat menyaksikan. (Admin).

 

Watu Petilasan Mbah Sani Taryan

Harusnya tidak boleh dipercaya, karena dapat mengakibatkan kemusyrikan. Namun faktanya batu itu masih tegar dan utuh. Tidak didapatkan penjelasan resmi dari pejabat setempat, kenapa batu itu dibiarkan utuh pada saat terjadi pekerjaan cut & fill pembangunan gedung pendidikan Kampus 7 Poltekkes Semarang tahun 2011. Mungkinkah hanya karena alasan teknis?, atau historis?, ekologis?, estetis? atau malah karena alasan mistis?. Inilah pertanyaan yang selalu menggelayut bagi para tamu yang berkunjung ke Kampus 7, ketika melihat batu besar teronggok di sudut utara bangunan gedung utama yang berlokasi di Jln Baturraden Km 12 Purwokerto.

Tidak bisa dipungkiri adanya kemunculan mitos dan cerita mistis, ketika banyak mata yang melihat dua buah alat berat tak mampu mengusik keutuhan batu tersebut. Demikian juga ketika dua orang pemecah batu yang biasa menaklukan batu angker, ternyata menyerah setelah seharian berupaya memecah batu itu. Pemecah batu itu hanya berkomentar “Tidak berani, meski dibayar mahal”. Beberapa orang tua yang dianggap mengerti muasal batu itu hanya berpesan “Biarkan saja, jangan diganggu”. Kesan serem semakin kental bila ditambah lagi dengan pengakuan beberapa pekerja yang merasa dipangil-panggil seseorang dari arah batu itu, dan setelah didatangi ternyata tidak ada siapa-siapa.

Barangkali hanya rekaan atau bualan belaka yang menyatakan bahwa batu itu sebenarnya adalah “watu petilasan”. Banyak versi tentang kisah watu petilasan tersebut, salah satu kisahnya adalah tentang Nyi Sani dan Mbah Taryan. Konon dua orang yang berjenis kelamin berbeda itu sebenarnya masih kerabat, tetapi ketika masih kecil hingga remaja keduanya saling berseteru. Keduanya selalu bersaing, saling mencurigai dan saling mengintai. Memang, meskipun masih remaja keduanya dikenal kuat dan sakti. Keduanya terkesan berebut pengaruh dan berebut perhatian di lingkunganya. Teman-teman sebayanya nyaris semua sudah meninggal dunia ketika ada “Pageblug” (wabah penyakit mematikan).

Nyi Sani dan Mbah Taryan kecil, dahulunya suka berebut mendahului memanfaatkan batu itu sebagai tempat berjemur pada pagi hari. Seperti sudah ada perjanjian diantara keduanya. Apabila Nyi Sani sudah lebih dulu menempati batu itu sebagai tempat berjemur, maka Mbah Taryan kecil akan mundur atau menanti Nyi Sani kecil selesai berjemur. Demikian sebaliknya. Kejadian seperti ini terus berlangsung dalam waktu yang lama. Hingga suatu ketika keduanya saling “kepethohok” (berpapasan secara tiba-tiba tanpa menyadari sebelumnya). Keduanya saling bertemu pandang, kemudian saling bentak dan saling hardik. Keduanya juga ternyata saling terkesan setelah melihat langsung dari jarak dekat. Singkat cerita, Selanjutnya keduanya saling tertarik dan akhirnya Nyi Sani dan Mbah Taryan remaja sepakat menikah. Dan ritual pernikahannya berlangsung di atas batu besar itu.

Nyi Sani dan Mbah Taryan dikenal kuat dan sakti, bukan karena keduanya tidak mempan senjata, melainkan karena keduanya semenjak kecil tidak pernah sakit. Keduanya dikenal pintar memberi wejangan pada orang-orang agar tidak sakit. Orang-orang yang patuh terhadap wejangan Nyi Sani dan Mbah Taryan ternyata tidak sedikit. Semuanya berhasil tetap sehat, kuat dan tak pernah sakit. Wejangan itu dikenal sebagai “Laku pitu”. Laku pitu tersebut dituangkan dalam mantera : “Ngising ngucing, Medang jarang – Madhang pepek, Kudhu brukut – Ranana runtah, Adoh udhud – Idhep awak”. Laku pitu itulah yang secara konsisten diajarkan dan dilaksanakan oleh Nyi Sani dan Mbah Taryan.

Nyi Sani memang memiliki perilaku sangat berbeda dengan kebanyakan orang di zamannya. Beliau selalu perhatian terhadap kebersihan diri (Idhep awak). Beliau selalu cuci tangan bila dirasa kotor atau ketika mau makan. Kuku kaki dan tanggannya terpelihara rapih dan bersih. Rambut dan kulitnya bersih bercahaya, karena selalu mandi dan keramas secara teratur. Beliau tidak pernah membuang ludah di sembarang tempat. Beliau selalu buang air besar dengan cara seperti kucing (ngising ngucing), yakni kotoranya selalu dikubur dan ditempat agak tersembunyi. Ketika itu kebanyakan orang buang air besar di sungai atau di sembarang tempat. Nyi Sani juga selalu minum air yang direbus (medang jarang), juga ketika untuk mandi. Sementara kebanyakan orang selalu minum air secara langsung tanpa direbus terlebih dahulu. Demikian juga soal makan, beliau selalu menerapkan pola menu yang beragam (madhang pepek).

Mbah Taryan juga memiliki kebiasaan istimewa, sangat berbeda dengan kebanyakan laki-laki pada zamanya. Beliau sangat menghidari asap tembakau (adoh udhud), beliau tak pernah merokok. Padahal pada zaman itu semua laki-laki pasti merokok. Kalau bepergian bertamu, Mbah Taryan selalu membawa “ilir” (kipas) dan tongkat sapu lidi. Tujuan utama membawa kipas adalah untuk mengusir asap tembakau yang mendekatinya, disamping untuk mendapat kesejukan saat suasana gerah atau panas. Mbah Taryan sangat tidak suka kalau melihat lingkungan sekitar kotor. Kadang-kadang, bahkan tanpa ijin empunya, apabila mendapati lingkungan kotor atau halaman rumah yang dikunjungi bertamu banyak sampah berserakan Mbah Taryan langsung beraksi. Tongkat sapu lidinya di urai dan digunakan untuk menyapu. Prinsip yang beliau pegang teguh dan selalu dilaksanakan adalah lingkungan harus bersih dari sampah (tidak ada sampah = ranana runtah).

Nyi Sani dan Mbah Taryan juga memiliki kebiasaan selalu melidungi diri dari kemungkinan gangguan alam. Meski sederhana, rumah panggungnya terkesan luas, terang, kering dan bersih. Dinding dan atapnya dibuat rapat dan tidak terlihat adanya tikus,   laba2 atau serangga lainnya. Keduanya selalu menggenakan pakaian yang nyaris komplit dan lengkap untuk melidungi dari terik matahari, gigitan serangga atau terpaan angin. Oleh karenanya beliau berdua sering berpesan : “Men waras ya kudhu brukut” (kalau ingin sehat ya harus brukut). Brukut dapat diartikan sebagai keadaan serba lengkap dan rapat serta terlindungi, baik untuk cara berpakaian ataupun untuk rumah dan perlengkapan lainnya.

Nyata benar, bahwa kekuatan dan kesaktian Nyi Sani dan Mbah Taryan didapat dari konsistensi laku pitu. Seiring dengan berjalannya waktu,nama Nyi Sani jauh lebih kesohor dibandingkan dengan Mbah Taryan. Mbah Taryan sama sekali sudah tidak merasa tersaingi, karena nyatanya Nyi Sani juga sudah menjadi istri yang baik dan menyenangkan bagi dirinya. Keduanya juga sudah bersepakat untuk sepenuhnya mengabdi bagi masyarakat agar tidak terkena penyakit. Beliau berdua ingin agar wejangan laku pitu dilaksanakan oleh semua semua orang, sehingga bisa kuat dan sakti.

Nyi Sani sudah terkenal ke segala penjuru arah mata angin, sehingga banyak masyarakat yang ingin bertemu dan memperoleh wejangan secara langsung dari beliau. Tidak diketahui secara pasti, mengapa Nyi Sani dalam memberikan wejangan selalu berada diatas batu besar itu. Kebetulan di kampung tempat tinggal beliau ada beberapa nama yang panggilannya sama. Ada Sanikem, ada Sanimah, ada Sanirah, ada marSani, dan lain-lain, semuanya dipanggil “ Nyi Sani atau Nini Sani”. Kemudian untuk memudahkah memberi arah tempat tinggal Nyi Sani yang dimaksud kepada para tamu yang mencarinya, maka masyarakat setempat menyebut “Nyi Sani Taryan”. Penyebutan dengan nama itu terasa sangat lazim dan tepat karena Nyi Sani adalah istri Mbah Taryan.

Hampir dipastikan Nyi Sani Taryan selalu mengajak tamunya dan memberikan wejangannya diatas batu besar itu. Akhirnya banyak yang menduga bahwa wejangan laku pitu akan terpatri kuat karena adanya pancaran aura dari batu itu. Lama-kelamaan dengan semakin tua usia Nyi Sani Taryan, tamu yang bertandang ke rumah beliau memanggilnya dengan “Mbah Sani Taryan”. Demikian juga masyarakat sekitar, memanggil beliau juga dengan sebutan yang sama, “Mbah Sani Taryan”. Dalam beberapa kesempatan Mbah Sani Taryan menyatakan bahwa wejangan laku pitu harus di tularkan kepada semua orang. Beliau menyatakan juga bahwa tugas menyebarkan wejangan laku pitu sudah mendekati selesai.

Beberapa hari kemudian, terjadilah berita menghebohkan. Mbah Sani Taryan tiba-tiba menghilang bersama suaminya. Rumah tempat tinggalnya juga mendadak menjadi seperti tanah pekarangan biasa. Memang sebelumnya pernah ada yang mengaku dipamiti oleh Mbah Sani Taryan, yang katanya akan pergi untuk waktu yang sangat lama. Mbah Sani Taryan memang tidak punya keturunan alias tidak punya anak, tetapi suatu ketika pernah berpesan : “Meskipun saya tidak punya anak, tetapi saya akan banyak memiliki cucu. Yaitu siapapun yang belajar dan menyebarkan wejangan laku pitu otomatis menjadi cucu saya. Diantara cucu saya mereka akan saling tertarik dan menikah”.

Sepeninggal Mbah Sani Taryan, beberapa orang yang merasa rindu dengan wejangannya, seringkali mendatangi batu besar yang biasa digunakan oleh beliau. Kesaksian penduduk setempat mengaku melihat orang yang rindu dan sengaja bersemedi di batu besar itu terakhir terjadi pada tahun 1975an. Batu besar yang merupakan bekas (jawa : tilas) tempat favorit bagi Mbah Sani Taryan itu kemudian lebih dikenal sebagai “Watu Petilasan Mbah Sani Taryan”

Barangkali sebuah kebetulan. Awal tahun 80an, areal Watu Petilasan Mbah Sani Taryan ini dipilih oleh Departemen Kesehatan RI sebagai tempat untuk mendidik tenaga Sanitasi. Lama pendidikan saat itu hanya satu tahun. Ilmu yang di ajarkan mirip dengan wejangan laku pitu, yakni penyehatan air, penyehatan makan, penyehatan udara, penyehatan tanah dan sampah, pengendalian vektor dan pemberdayaan masyarakat. Lulusannya disebut Sanitarian (mirip dengan nama mbah Sani Taryan). Sekarang para Sanitarian lulusan dari pendidikan sanitasi di area Watu Petilasan Mbah Sani Taryan telah bekerja di seluruh wilayah Indonesia.

Sekarang ini area Watu Petilasan Mbah Sani Taryan telah menjelma menjadi Kampus 7 Politeknik Kesehatan Semarang. Batu besar yang dikenal sebagai Watu Petilasan Mbah Sani Taryan kini masih tetap utuh dapat dilihat oleh siapa saja. Barangkali hanya sebuah kebetulan juga. Mereka yang belajar di tempat ini banyak yang saling tertarik dan kemudian menikah (ya seperti pesan Mbah Sani Taryan itu).