PEMBINAAN DAN PENDAMPINGAN PEDAGANG KAKI LIMA DALAM UPAYA MENGURANGI PENGGUNAAN ZAT MAKANAN TAMBAHAN DI LOKAWISATA BATURADEN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2016

Bahan kimia bersifat esensial dalam peningkatan kesejahteraan manusia, dan penggunaannya sedemikian luas di berbagai sektor antara lain industri, pertanian, pertambangan dan lain sebagainya. Singkatnya, bahan kimia dengan adanya aneka produk yang berasal dari padanya telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang perlu kita waspadai adalah adanya kecenderungan penggunaan yang salah (misuse) sejumlah bahan (kimia) berbahaya pada pangan. Bahan kimia berbahaya yang sering disalah gunakan pada pangan antara lain Boraks, Formalin, Rhodamin B, dan Kuning Metanil. Keempat bahan kimia tersebut dilarang digunakan untuk pangan, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pedagang kaki lima kebanyakan ditemukan di sekolah-sekolah dasar, tetapi ada juga beberapa sekolah menengah pertama dan daerah wisata yang memperbolehkan pedagang ini menggelar dagangannya. Jajanan ini sangat menarik untuk diamati, sebab ide makanannya kebanyakan sangat sederhana dan penuh kreativitas.

Berbagai faktor yang mendorong banyak pihak untuk melakukan praktek penggunaan yang salah bahan kimia terlarang untuk pangan. Pertama, bahan kimia tersebut mudah diperoleh di pasaran. Kedua, harganya relatif murah. Ketiga, pangan yang mengandung bahan tersebut menampakkan tampilan fisik yang memikat. Keempat, tidak menimbulkan efek negatif seketika. Kelima, informasi bahan berbahaya tersebut relatif terbatas, dan pola penggunaannya telah dipraktekkan secara turun-temurun. Oleh karena itulah kita sebagai konsumen hendaknya perlu berhati-hati dalam memilih produk pangan antara lain dengan mengenal ciri-ciri produk pangan yang mengandung bahan terlarang.

IMG-20161117-WA0005Informasi terkait keamanan pangan dan pelarangan penggunaan bahan kimia dalam tambahan pangan secara berlebih serta bahan yang dilarang telah banyak dilakukan, antara lain : melalui media elektronik (TV, radio, internet), media cetak (koran, leaflet, booklet, poster) atau komunikasi langsung melalui penyuluhan, seminar dan lain sebagainya atau dengan upaya pendampingan kepada para pedagang kaki lima dengan pendekatan kekeluargaan.  Dengan adanya permasalahan seperti dalam uraian diatas, maka tim dosen Pengabmas yang diketuai oleh Sugeng Abdullah, SST., M.Si dan beranggotakan 3 orang dosen lain ( – Budi Triyantor, ST., M.Kes, – Teguh Widiyanto, S.Sos., M.Kes, dan – Khomsatun, S.Pd., M.Kes) serta melibatkan beberapa mahasiswa semester 3 prodi kesehatan lingkungan dalam melakukan kegiatan Pembinaan dan Pendampingan kepada PKL di Lokawisata Baturaden. Dari kegiatan ini diharapkan secara perlahan terjadi perubahan perilaku dari mereka yang tidak tahu menjadi tahu dan dapat menggugah kesadaran masyarakat, sehingga mau dan mampu untuk melakukan pengamanan paling tidak untuk lingkungan keluarganya sendiri akan makanan yang dikonsumsi. Pada gilirannya akan terbentuk suatu budaya yang menonjolkan perilaku kehidupan yang aman (safety culture) di tengah masyarakat.

Metode dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian ini melalui 2 tahap; yaitu (a) Pra Pelaksanaan yang meliputi persiapan dan koordinasi dengan pihak lokawisata baturaden (b) Pelaksanaan yang meliputi pencarian informasi tingkat pengetahuan PKL dengan pre test dilanjutkan serangkaian kegiatan pembinaan dan pendampingan PKL dan diakhiri dengan kegiatan post test dengan tujuan mencari pola perubahan yang terjadi dari hasil pembinaan dan pendampingan.

IMG-20161117-WA0011Hasil pre test pada 38 PKL yang menunjukkan rata-rata tingkat pengetahuan PKL terhadap BTP 6,82 (Rendah) dengan nilai terendah adalah 2 dan tertinggi adalah 9, hal ini menjadi tindakan tolak ukur kegiatan pembinaan dan pendampingan kedepannya. Pembinaan dan pendampingan PKL dilakukan sebanyak 4 (empat) kali yang bertempat di ruang pertemuan dan area panggung hiburan di lokawisata baturaden. Kegiatan ini menyertakan pihak puskesmas baturaden 2 sebagai salah satu narasumber. Di akhir pembinaan dan pendampingan dilakukan post test pada 38 PKL terdapat rata-rata nilai 10,9 (Baik) dengan nilai terendah 8 dan nilai tertinggi adalah 14, serta dilakukan pengambilan sampel makanan dan minuman secara acak pada 10 PKL, sampel dilakukan pemeriksaan di Laboratorium Kesehatan Daerah Banyumas. Hasil sampel yang dilakukan pengujian terhadap indikator BTP yang dilarang menurut peraturan tidak ada yang dinyatakan positif. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa hasil dari kegiatan pembinaan dan pendampingan PKL ini adalah baik.

PENGABMAS 2016 BUDI T edit Akhir kegiatan pembinaan dan pendampingan ini, Tim Pengabmas memberikan/ mencetuskan slogan terkait keamanan pangan (makanan minuman) yang diperjualkan di area Lokawisata Baturaden.

 

TIM PENGABMAS

LOKAWISATA BATURADEN,     September – Desember 2016

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>